Jumat, 16 Maret 2012

Dream of Love


Untuk seseorang yang jauh disana

Aku merindukankanmu seperti matahari merindukan bulan
Aku merindukanmu seperti hujan merindukan pelangi
Aku merindukanmu seperti kepompong merindukan sayapnya
Aku merindukanmu

Ini ketiga kalinya aku memimpikanmu, mimpi yang selalu membuatku menangis ketika aku terbangun dari tidurku. Entah sudah berapa tahun aku tidak mengetahui kabarnya, dan aku yakin dia pun tidak mengetahui kabarku atau bahkan tidak ingin mengetahui kabarku.

Hari ini aku terbangun dengan rasa sakit, dada sesak dan mata penuh dengan air mata. Aku yakin setiap orang pernah mengalaminya.

Kami berada di sebuah acara, sepertinya itu sebuah acara reuni alumnus mahasiswa gizi, karena disana aku bertemu dengan beberapa sahabat lamaku, David, Cantika, Sani, Dara, dan Dede. Sepertinya tidak ada yang berubah dari mereka saat itu kecuali penampilan mereka yang berbeda karena semua telah berpenghasilan. Senang sekali rasanya berada kembali di tengah-tengah mereka setelah rasanya bertahun-tahun lamanya aku menghilang karena aku merasa minder terhadap mereka semuanya. Acara itu diadakan di sebuah tempat yang aku tak tahu itu dimana, seperti sebuah tempat makan sederhana yang berdekatan dengan tempat tinggalku sementara di Jakarta. Seperti biasa kami bercanda, sepertinya kali ini kami merasa kembali menjadi seorang mahasiswa yang bebas melakukan apa saja. Ada satu yang berubah, formasi kami. Karena sekarang David dan Cantika berstatus pacaran, atau bahkan ber tunangan.

Entah apa yang ingin aku lakukan, aku beranjak dari tempat itu dan kembali ke kosan bukan untuk waktu yang lama tapi hanya sekedar ingin mengambil sesuatu. Kosan ku cukup besar untuk menampung beberapa orang memang. Tapi aku tidak menyangka bahwa saat itu di dalam kamar sudah ada dua orang tamu yang telah menungguku cukup lama. Adna dan kekasihnya. Perlahan aku membuka pintu kamar yang tidak ku kunci karena aku tidak ingin menggangu tetangga kosanku yang lain. Tapi aku cukup dikagetkan dengan keberadaan dua orang tersebut disana. Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa di kosanku, bukan di acara reuni, tempat seharusnya mereka berada. Aku menyambut mereka dengan senyum, lebih tepatnya  mereka yang menyambutku.  Aku berdiri di depan mereka, tanpa kata-kata dengan melempar senyum dengan perasaan heran untuk apa mereka datang. Cukup lama aku berdiri dengan terlihat bingung hingga akhirnya aku memutuskan untuk duduk dan beramah tamah dengan keduanya. Adna adalah sahabat terdekatku dan kekasihnya berarti sahabatku juga. Yah..bisa dibilang begitu. Belum sempurna posisi dudukku di antara mereka Adna sudah mengagetkanku dengan beberapa kalimat yang ia katakan dengan ringan tanpa beban. Aku tak berharap dia mengatakan apapun sebernarnya. “Aku liat catatan kecilmu di tembok” . Jantungku serasa berhenti, ruangan ini tiba-tiba terasa sempit dan menyeramkan. Ingin rasanya aku bisa menghilang saat itu juga. Adna membaca catatan kecil doaku yang aku tempel di dinding kamarku, yang aku tuliskan namanya disana. Aku menuliskan harapanku untuk dapat hidup dengannya di kertas kecil itu. Aku benar-benar menuliskan namanya di kertas itu walaupun telah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya. Ada beberapa coretan di nama itu, ya..itu coretan yang aku buat ketika  aku sedih. aku memang merasa labil, kadangkala aku memang ingin menghapus namanya dari hidupku, tapi aku merasa bukan hal mudah melakukannya.

Dia mengatakannya dengan senyum bahagia, aku tidak tahu maksudnya karena ia mengatakannya di depan kekasihnya yang juga melempar sedikit senyum manis padaku. Dia bahkan menanyakan bagaimana bisa ada namanya di kertas kecil catatan doaku itu. Harusnya dia tidak menanyakannya. “Kau suka padaku??” Rasanya aku benar-benar ingin keluar dari situasi ini. “Mon....” ia memanggilku dengan nada bicara seperti dulu, seperti saat ia belum bersama kekasihnya itu. “Ya” Spontan aku menjawabnya...”Aku dulu memang menyukaimu”. Aku berpikir pasti dia akan menganggapku wanita aneh yang diam-diam menyukainya. Tapi tidak, dia justru tersenyum. Dia bahkan mengambil buku Diaryku dan bermaksud untuk membacanya, Aku tidak tahu apa maksudnya dia melakukan itu, aku segera merebut buku itu dari tangannya dan segera merapikannya kembali. Aku masih bingung dengan tingkah lakunya itu hingga akhirnya dia bersama kekasihnya itu meninggalkan kamarku sementara  saat aku akan pergi mengambil minuman untuk mereka di dapur. Tapi aku tetap beranjak ke dapur, karena aku ingin sedikit menenangkan hati.

Aku keluar kamar untuk mengambil air minum untuk dua orang tamu istimewaku itu. Cukup lama aku keluar sampai akhirnya Dara pun datang ke kosanku. Dia menarik tanganku dan sepertinya ingin mengatakan suatu hal yang serius. “Mon sini deh” Dia menarik ku ke sebuah tempat duduk. “ Mon, lu dulu suka sama Adna???” raut wajahnya sangat seruis tetapi dia tetap cantik dengan senyum seriusnya itu, dia memang sahabatku yang paling cantik. “kok lu nanya gitu” aku belum mau menjawab pertanyaannya, aku sangat kaget, kenapa hari ini banyak yang menanyakan hal itu padaku. “Adna barusan nemuin gue, dia bilang lu dulu suka sama dia, mungkin kalian belum jodoh aja karena sebenernya dia dulu juga suka sama lu. Dia dulu bener-bener suka sama lu, tapi dia ngerasa lu biasa-biasa aja sama dia, sampe akhirnya dia jadian sama Zahra. Kalian belum beruntung aja ga bisa jadian” Jantungku terasa berdetak lebih cepat dan lebih lebih lebih keras dari biasanya. Ada perasaan menyesal yang tak tertahankan. “Kalo gitu gue pulang dulu yak, gue buru-buru” Aku tetap terduduk ditempat itu, aku tidak menghiraukan Dara yang berpamitan pulang. Aku masih ternging kata-kata Dara bahwa Adna juga menyukaiku, betapa bodohnya aku. Aku menerawang ke beberapa tahun yang lalu, kenapa aku harus menghindarinya, menolak semua kebaikan-kebaikan dia, bukan karena aku tidak suka, tetapi karena aku takut dia yang akan menghindariku kalau tahu aku menyukainya. Bodohnya aku, kenapa aku justru menjauh darinya saat sebenarnya dia mulai mendekatkan diri padaku. Aku kembali ke kamar. Aku melupakan tujuan utamaku mengambil air minum untuk dua orang tamuku yang telah kembali ke kamar. Adna dan kekasihnya telah berada di kamarku. Mereka hanya keluar sebentar untuk menemui sahabat-sahabat lama kami dan segera kembali ke kosanku.

Untuk kesekian kalinya aku dibuat kaget oleh kedua tamuku itu. Kamarku telah disulap menjadi sebuah kamar dengan dua tempat tidur dan sangat terlihat rapi. Yah, Adna merapikan kamarku. Kami duduk bertiga di kamar tanpa banyak berbincang-bincang, hanya ada senyum di wajah kedua tamuku itu. Beberapa waktu terdiam akhirnya kami pun memulai perbincangan, membahas berbagai hal, tapi tak jauh dari kami bertiga, aku merasa saat ini seharusnya aku tidak ikut campur lagi dalam kehidupan mereka berdua. Aku hanya akan menimbulkan masalah bagi mereka, “Kak, boeh aku kos disini???aku sekamar sama kakak ya...” Apa ini??kenapa tiba-tiba???apa maksudnya ini? Aku benar-benar dibuat bingung oleh keduanya, mereka tampak tersenyum penuh arti. Sepertinya ada sesuatu dibalik semua ini.

Aku terbangun oleh suara anak-anak kecil di depan kosan. Sedih sekali rasanya, aku menemui kenyataan yang berbeda, sangat jauh berbeda. Kenyataanya Adna tidak pernah tahu aku menyukainya, Aku tidak pernah tahu bagaimana perasaannya padaku, tapi aku tahu Adna dan kekasihnya telah bahagia dan aku tidak pernah ada diantara mereka. Mimpi yang kadang membuatku tak ingin terbangun, mimpi yang membuatku terus memiliki harapan. Tapi saat logika mengalahkan semuanya, realita lah yang berbicara. Terima kasih Tuhan kau telah memberikan rasa cinta, memberiku kesempatan indahnya mencintai dan mengerti bahwa cinta tidak harus memiliki.



Tidak ada komentar: