Untuk
seseorang yang jauh disana
Aku
merindukankanmu seperti matahari merindukan bulan
Aku
merindukanmu seperti hujan merindukan pelangi
Aku
merindukanmu seperti kepompong merindukan sayapnya
Aku
merindukanmu
Ini
ketiga kalinya aku memimpikanmu, mimpi yang selalu membuatku menangis ketika aku
terbangun dari tidurku. Entah sudah berapa tahun aku tidak mengetahui kabarnya,
dan aku yakin dia pun tidak mengetahui kabarku atau bahkan tidak ingin
mengetahui kabarku.
Hari ini
aku terbangun dengan rasa sakit, dada sesak dan mata penuh dengan air mata. Aku
yakin setiap orang pernah mengalaminya.
Kami
berada di sebuah acara, sepertinya itu sebuah acara reuni alumnus mahasiswa
gizi, karena disana aku bertemu dengan beberapa sahabat lamaku, David, Cantika,
Sani, Dara, dan Dede. Sepertinya tidak ada yang berubah dari mereka saat itu
kecuali penampilan mereka yang berbeda karena semua telah berpenghasilan.
Senang sekali rasanya berada kembali di tengah-tengah mereka setelah rasanya
bertahun-tahun lamanya aku menghilang karena aku merasa minder terhadap mereka
semuanya. Acara itu diadakan di sebuah tempat yang aku tak tahu itu dimana,
seperti sebuah tempat makan sederhana yang berdekatan dengan tempat tinggalku
sementara di Jakarta. Seperti biasa kami bercanda, sepertinya kali ini kami
merasa kembali menjadi seorang mahasiswa yang bebas melakukan apa saja. Ada
satu yang berubah, formasi kami. Karena sekarang David dan Cantika berstatus
pacaran, atau bahkan ber tunangan.
Entah
apa yang ingin aku lakukan, aku beranjak dari tempat itu dan kembali ke kosan
bukan untuk waktu yang lama tapi hanya sekedar ingin mengambil sesuatu. Kosan
ku cukup besar untuk menampung beberapa orang memang. Tapi aku tidak menyangka
bahwa saat itu di dalam kamar sudah ada dua orang tamu yang telah menungguku
cukup lama. Adna dan kekasihnya. Perlahan aku membuka pintu kamar yang tidak ku
kunci karena aku tidak ingin menggangu tetangga kosanku yang lain. Tapi aku
cukup dikagetkan dengan keberadaan dua orang tersebut disana. Aku tidak tahu
bagaimana mereka bisa di kosanku, bukan di acara reuni, tempat seharusnya
mereka berada. Aku menyambut mereka dengan senyum, lebih tepatnya mereka yang menyambutku. Aku berdiri di depan mereka, tanpa kata-kata
dengan melempar senyum dengan perasaan heran untuk apa mereka datang. Cukup
lama aku berdiri dengan terlihat bingung hingga akhirnya aku memutuskan untuk
duduk dan beramah tamah dengan keduanya. Adna adalah sahabat terdekatku dan
kekasihnya berarti sahabatku juga. Yah..bisa dibilang begitu. Belum sempurna
posisi dudukku di antara mereka Adna sudah mengagetkanku dengan beberapa
kalimat yang ia katakan dengan ringan tanpa beban. Aku tak berharap dia
mengatakan apapun sebernarnya. “Aku liat catatan kecilmu di tembok” . Jantungku
serasa berhenti, ruangan ini tiba-tiba terasa sempit dan menyeramkan. Ingin
rasanya aku bisa menghilang saat itu juga. Adna membaca catatan kecil doaku
yang aku tempel di dinding kamarku, yang aku tuliskan namanya disana. Aku
menuliskan harapanku untuk dapat hidup dengannya di kertas kecil itu. Aku
benar-benar menuliskan namanya di kertas itu walaupun telah bertahun-tahun aku
tidak bertemu dengannya. Ada beberapa coretan di nama itu, ya..itu coretan yang
aku buat ketika aku sedih. aku memang
merasa labil, kadangkala aku memang ingin menghapus namanya dari hidupku, tapi
aku merasa bukan hal mudah melakukannya.
Dia
mengatakannya dengan senyum bahagia, aku tidak tahu maksudnya karena ia
mengatakannya di depan kekasihnya yang juga melempar sedikit senyum manis
padaku. Dia bahkan menanyakan bagaimana bisa ada namanya di kertas kecil
catatan doaku itu. Harusnya dia tidak menanyakannya. “Kau suka padaku??”
Rasanya aku benar-benar ingin keluar dari situasi ini. “Mon....” ia memanggilku
dengan nada bicara seperti dulu, seperti saat ia belum bersama kekasihnya itu.
“Ya” Spontan aku menjawabnya...”Aku dulu memang menyukaimu”. Aku berpikir pasti
dia akan menganggapku wanita aneh yang diam-diam menyukainya. Tapi tidak, dia
justru tersenyum. Dia bahkan mengambil buku Diaryku dan bermaksud untuk
membacanya, Aku tidak tahu apa maksudnya dia melakukan itu, aku segera merebut
buku itu dari tangannya dan segera merapikannya kembali. Aku masih bingung
dengan tingkah lakunya itu hingga akhirnya dia bersama kekasihnya itu
meninggalkan kamarku sementara saat aku
akan pergi mengambil minuman untuk mereka di dapur. Tapi aku tetap beranjak ke
dapur, karena aku ingin sedikit menenangkan hati.
Aku
keluar kamar untuk mengambil air minum untuk dua orang tamu istimewaku itu.
Cukup lama aku keluar sampai akhirnya Dara pun datang ke kosanku. Dia menarik
tanganku dan sepertinya ingin mengatakan suatu hal yang serius. “Mon sini deh”
Dia menarik ku ke sebuah tempat duduk. “ Mon, lu dulu suka sama Adna???” raut
wajahnya sangat seruis tetapi dia tetap cantik dengan senyum seriusnya itu, dia
memang sahabatku yang paling cantik. “kok lu nanya gitu” aku belum mau menjawab
pertanyaannya, aku sangat kaget, kenapa hari ini banyak yang menanyakan hal itu
padaku. “Adna barusan nemuin gue, dia bilang lu dulu suka sama dia, mungkin
kalian belum jodoh aja karena sebenernya dia dulu juga suka sama lu. Dia dulu
bener-bener suka sama lu, tapi dia ngerasa lu biasa-biasa aja sama dia, sampe
akhirnya dia jadian sama Zahra. Kalian belum beruntung aja ga bisa jadian”
Jantungku terasa berdetak lebih cepat dan lebih lebih lebih keras dari
biasanya. Ada perasaan menyesal yang tak tertahankan. “Kalo gitu gue pulang
dulu yak, gue buru-buru” Aku tetap terduduk ditempat itu, aku tidak
menghiraukan Dara yang berpamitan pulang. Aku masih ternging kata-kata Dara
bahwa Adna juga menyukaiku, betapa bodohnya aku. Aku menerawang ke beberapa
tahun yang lalu, kenapa aku harus menghindarinya, menolak semua
kebaikan-kebaikan dia, bukan karena aku tidak suka, tetapi karena aku takut dia
yang akan menghindariku kalau tahu aku menyukainya. Bodohnya aku, kenapa aku
justru menjauh darinya saat sebenarnya dia mulai mendekatkan diri padaku. Aku
kembali ke kamar. Aku melupakan tujuan utamaku mengambil air minum untuk dua
orang tamuku yang telah kembali ke kamar. Adna dan kekasihnya telah berada di
kamarku. Mereka hanya keluar sebentar untuk menemui sahabat-sahabat lama kami
dan segera kembali ke kosanku.
Untuk
kesekian kalinya aku dibuat kaget oleh kedua tamuku itu. Kamarku telah disulap
menjadi sebuah kamar dengan dua tempat tidur dan sangat terlihat rapi. Yah, Adna
merapikan kamarku. Kami duduk bertiga di kamar tanpa banyak berbincang-bincang,
hanya ada senyum di wajah kedua tamuku itu. Beberapa waktu terdiam akhirnya
kami pun memulai perbincangan, membahas berbagai hal, tapi tak jauh dari kami
bertiga, aku merasa saat ini seharusnya aku tidak ikut campur lagi dalam
kehidupan mereka berdua. Aku hanya akan menimbulkan masalah bagi mereka, “Kak, boeh
aku kos disini???aku sekamar sama kakak ya...” Apa ini??kenapa tiba-tiba???apa
maksudnya ini? Aku benar-benar dibuat bingung oleh keduanya, mereka tampak
tersenyum penuh arti. Sepertinya ada sesuatu dibalik semua ini.
Aku
terbangun oleh suara anak-anak kecil di depan kosan. Sedih sekali rasanya, aku
menemui kenyataan yang berbeda, sangat jauh berbeda. Kenyataanya Adna tidak
pernah tahu aku menyukainya, Aku tidak pernah tahu bagaimana perasaannya
padaku, tapi aku tahu Adna dan kekasihnya telah bahagia dan aku tidak pernah
ada diantara mereka. Mimpi yang kadang membuatku tak ingin terbangun, mimpi
yang membuatku terus memiliki harapan. Tapi saat logika mengalahkan semuanya,
realita lah yang berbicara. Terima kasih Tuhan kau telah memberikan rasa cinta,
memberiku kesempatan indahnya mencintai dan mengerti bahwa cinta tidak harus
memiliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar