Di suatu tempat terdapat sebuah kerajaan yang sangat besar. Tanahnya subur, rakyatnya makmur, dan hidup rukun. Kerajaan ini amat sangat terkenal di segala penjuru negeri. Namanya Kerajaan Volvora. Kerajaan Volvora memiliki Raja yang arif dan bijaksana, dia baik dan selalu mengutamakan rakyatnya. Dia adalah Raja Azola. Di kerajaan Volvora tidak terdapat rakyat miskin, semua hidup sejahtera. Sebagian wilayah kerajaan Volvora adalah bentangan tanah hijau yang subur, sebagian lagi laut biru yang berkilau, di tengah-tengah kota mengalir sebuah sungai besar yang bersih dan jernih. Raja Azola memiliki istri yang sangat cantik. Dialah Sang Ratu. Dia lembut dan santun tutur katanya. Dia pandai membuat bait-bait puisi, dan dia sangat menyukai bunga. Dia bernama Ratu Roselina. Seluruh rakyat Kerajaan Volvora sangat mencintai raja dan ratu mereka.
Beberapa tahun setelah menikah, Raja Azola dan Ratu Roselina akhirnya mendapat sebuah anugerah dari Tuhan, yaitu seorang bayi perempuan yang cantik dan mungil. Kini Kerajaan Volvora dikaruniai seorang putri. Raja dan Ratu memberinya nama Florina. Putri Florina memiliki sebuah keistimewaan, sejak lahir tubuhnya memiliki aroma wangi bunga dan aroma tersebut tak pernah hilang dari tubuhnya meski Putri mandi. Karena wangi tubuhnya itulah Raja memberina nama Florina. Kebahagiaan yang dirasakan oleh Kerajaan Volvora pun bertambah dengan lahirnya Putri Florina. Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas. Semua anggota kerajaan menyayanginya. Begitu pula seluruh rakyat Volvora. Kemanapun Putri pergi, ia selalu membawa keharuman, keceriaan dan kebahagiaan untuk orang-orang di sekelilingnya.
Namun ternyata di tempat lain, ada seseorang yang tidak menyukai kehadiran Putri Florina di Kerajaan Volvora. Dia adalah Kaktusa, adik semata wayang dari Raja Azola yang kini memimpin sebuah kerajaan kecil bagian dari kerjaan Volvora. Kaktusa dan istrinya memiliki seorang putra yang bernama Myceta. Dia adalah seorang anak yang tampan, pandai dan cerdas. Usianya satu tahun lebih tua dibanding Putri Florina. Kaktusa berharap Myceta lah yang kelak akan menggantikan Raja Azola sebagai Raja di Volvora dan bukan di Kerajaan kecil yang sekarang dia pimpin. Kaktusa adalah seseoarang yang tamak dan serakah. Namun harapannya untuk menjadikan Myceta pengganti Raja luntur dengan kelahiran Putri Florina yang hingga kini dicintai seluruh rakyatnya.
Lima belas tahun kemudian, Kaktusa diangkat oleh Raja untuk menjadi pendampingnya di Kerajaan Volvora, dan diminta untuk tinggal di dalam Kerajaan. Dan kerajaan kecil tempat tinggalnya akan dipimpin oleh Mantan Perdana Menteri yang berasal dari kerajaan seberang.Akhirnya Kaktusa beserta dengan istri dan Myceta pun pindah ke dalam Kerajaan. Kini Myceta telah berusia 17 tahun dan Putri Florina berusia 16 tahun. Niat Kaktusa untuk mengambil kekuasaan di Volvora semakin besar. Apalagi kini ia sudah mendapat kepercayaan dari Sang Raja. Ia pun mulai melakukan banyak cara untuk menyingkirkan Sang Putri.
Suatu hari Kaktusa pergi keluar Istana dan menemui seorang penyihir. Ia meminta penyihir untuk membuat Sang Raja jatuh sakit sehingga ia tak lagi bisa memimpin kerajaan. Sang penyihir pun memberikan ramuan kepada Kaktusa untuk dicampurkan pada makanan Raja. Beberapa hari kemudian Sang Raja pun jatuh sakit dan tak sadarkan diri. Raja tak bisa menggerakan tubuhnya dan tak dapat bicara. Banyak cara yang dilakukan oleh seluruh anggota kerjaaan untuk menyembuhkan Sang Raja, tetapi hingga 2 tahun sang Raja belum juga sembuh, sementara kekuasaan diberikan kepada Sang Ratu.
Tahun ini, Putri Florina tepat berusia 18 tahun dan Putri Florina sudah mampu untuk menggantikan Ratu Roselina memimpin Kerajaan Volvora. Putri Florina tumbuh menjadi Gadis yang cerdas dan cekatan. Dia mampu mengerjakan segala urusan kenegaraan berkat pendidikannya selama ini. Dan kini Putri sudah siap untuk menggantikan Raja Azola dan Ratu Roselina. Mendengar kabar tersebut, Kaktusa tidak tinggal diam. Dia kembali keluar Istana menemui Penyihir yang dahulu memberikan ramuan untuk membuat Raja sakit.Dia kembali meminta agar Putri Florina tak bisa memimpin kerajaan. Penyihir pun memberikan ramuan yang sama kepada Kaktusa.
Tak diduga sama sekali, ternyata ramuan tersebut tidak bekerja pada Putri Florina. Walaupun Kaktusa sudah mencampurkannya pada makanan dan minuman Putri tapi ramuan tersebut tidak bekerja. Kaktusa pun kembali pada Penyihir, dan meminta ramuan lain. Diberilah Kaktusa ramuan yang lebih kuat dibanding sebelumnya. Tapi hasilnya tetap sama. Setelah berkali-kali ramuan itu diberikan Putri tetap tidak mengalami perubahan apapun. Dia tetap dapat beraktivitas seperti biasanya. Kaktusa belum menyerah, ia pun kembali pada penyihirnya lagi untuk meminta sesuatu yang bisa membuat putri tak lagi bisa memimpin kerajaan. Akhirnya Sang penyihir pun membuat ramuan untuk membuat putri menua. Jika menelan ramuan tersebut maka putri akan menjadi tua 50 tahun dibandingkan umur yang sebenarnya. Namun seperti ramuan yang sebelumnya, rupanya ramuan itu pun kembali tak bekerja pada sang putri. Kaktusa belum juga menyerah, ia pun kembali lagi ke tempat sang penyihir dan meminta lagi ramuan yang lebih kuat. Dia meninggalkan Istana dengan penuh kemarahan, dia tak menyadari bahwa diam-diam putri mengutus seseorang untuk mengikutinya. Ternyata putri merasa curiga karena selama ini Kaktusa keluar istana tanpa kepentingan yang jelas.
Dari utusannya Putri mengetahui bahwa selama ini Kaktusa pergi ke seorang penyihir jahat yang telah membuat Raja sakit. Akhirya, suatu hari diam-diam Sang putri keluar istana tanpa sepengetahuan siapapun dan pergi untuk menemui penyihir yang biasa ditemui oleh Kaktusa. Dia menemui Penyihir tersebut untuk meminta penawar untuk sang Raja. Namun ternyata sang penyihir tak memiliki penawar tersebut. Dan penawar untuk Raja Azola adalah setangkai bunga emas mekar yang berada di sebuah dasar laut. Dan bunga tersebut hanya akan mekar satu kali dalam siklus hidupnya, dan tidak seorang pun yang mengetahui kapan bunga itu mekar.
Tampilkan postingan dengan label Cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 Desember 2012
Kamis, 06 September 2012
Surat Cinta
Aku jatuh cinta
Tapi bukan kepadamu aku akan mengatakannya
Akan aku katakan semua pada Allah
dan aku mohon kepada-Nya untuk menyampaikannya
Aku jatuh cinta
Dan kemudian aku tulis semua kata cinta
Bukan untuk aku kirimkan padamu
Tapi untuk aku titipkan pada Allah
Agar suatu hari Dia menyampaikannya melalui hatimu
Aku jatuh cinta
bukan melalui pandangan mata
Tapi karna pandanganmu terhadap dunia tentang makna bahagia
Aku jatuh cinta
Bukan untuk mencari arti bahagia
Tetapi karena bahagia itu cinta
Aku jatuh cinta
Karena saat cinta itu tiba aku menyambutnya
dan dengan ikhlas menerimanya
Aku jatuh cinta
Tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa mencinta
Aku jatuh cinta
Tapi aku tak tahu kenapa padamu aku cinta
Yang aku tahu
Aku jatuh cinta
Karena Allah menganugerahkan sebuah rasa
yang disebut CINTA
Tapi bukan kepadamu aku akan mengatakannya
Akan aku katakan semua pada Allah
dan aku mohon kepada-Nya untuk menyampaikannya
Aku jatuh cinta
Dan kemudian aku tulis semua kata cinta
Bukan untuk aku kirimkan padamu
Tapi untuk aku titipkan pada Allah
Agar suatu hari Dia menyampaikannya melalui hatimu
Aku jatuh cinta
bukan melalui pandangan mata
Tapi karna pandanganmu terhadap dunia tentang makna bahagia
Aku jatuh cinta
Bukan untuk mencari arti bahagia
Tetapi karena bahagia itu cinta
Aku jatuh cinta
Karena saat cinta itu tiba aku menyambutnya
dan dengan ikhlas menerimanya
Aku jatuh cinta
Tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa mencinta
Aku jatuh cinta
Tapi aku tak tahu kenapa padamu aku cinta
Yang aku tahu
Aku jatuh cinta
Karena Allah menganugerahkan sebuah rasa
yang disebut CINTA
Selasa, 07 Agustus 2012
Tara
Ini sudah jam 2 pagi, tapi gw belum bisa memejamkan mata
semenitpun. Ga ada sesuatu yang bisa gw kerjain, kerjaan kantor semua udah
beres, nonton tv ga ada siaran yang menarik, online internet jam segini mana
ada temen. Jadi aja gw merem melek sendirian di ruang tv. Sudah lebih dari
seminggu ini gw ga tidur di kamar karna kamar gw dipake adek gw yang baru
keluar dari rumah sakit. Insomnia gw ini juga salah satu akibatnya, karna gw ga
bisa tidur waktu jagain adek gw.
Ddddddrttt.......dddddddrrrrrtttttttt.......ddddddrttttt..
Hp gw bunyi, hmmm...siapa sih ini yang telfon jam segini? Bukan tengah malem lagi kali ini, tapi pagi! Gw cari hp gw yang ternyata ada di bawah kaki gw (biasanya nyampe kolong tuh hp). Gw pantengin tuh layar hp yang segambreng, hhhmmm...Ari! Di hp emang ga keluar nama si penelpon, tapi gw apal banget ini nomor siapa, karna nama itu baru banget gw hapus 4 hari yang lalu. Yap! Bisa dibilang gw labil, tiap ada masalah sama Ari, pasti nomornya gw hapus dari kontak hp, kalo udah beres masalahnya gw save lagi. Kelamaan gw ngangkat, akhirnya panggilan pun selesai. Tapi tak lebih dari 5 detik, hp gw kembali lagi bergetar.
“Assalammualaikum” dengan suara seperti orang tidur gw angkat telpon dari Ari
“Wa’alaikumsalam, kamu udah tidur?”
“Iya, kenapa?”
“jangan tidur..aku pengen ngobrol, pengen denger suara kamu”
“ini jam berapa? Aku masih tidur, besok aja ya nelpon lagi”
“Yaudah sana..jangan lupa baca doa lagi...Assalammualaikum”
“Wa’alaikumsalam”
Sebenernya gw belum ngantuk sama sekali, tapi gw lagi males ngomong sama Ari. Ini bukan tanpa sebab. Empat hari yang lalu, Nuri ngajak gw chat seperti biasanya di waktu jam makan siang. Tapi dia bilang ada hal yang mau dia omongin ke gw serius. Oke...gw sama Nuri emang ga pernah yang namanya ngobrol serius, yang kita omongin selalu aja ga penting. Tapi hari itu dia bilang dia pengen ngomong serius.Nuri adalah salah satu temen terdekat gw, dan dia tau hampir semua kisah gw sama Ari.
“Tar, gw pengen ngaku sesuatu sama lo, tapi lo jangan marah ya...”
“Ngomong apa? Serius bener...”
“Tapi lo janji dulu jangan marah”
“Iya, janji..kelamaan lo ah”
“Ari nembak gw dua hari yang lalu, lo ga marah kan Tar?”
“Hmm,,,,oke, ngapain lo cerita ke gw?”
“Yah..gw ga enak sama lo Tara...secara kan Ari itu mantan
lo, belom lagi lo masih sering jalan sama dia sampe sekarang, dan gw kenal dia
juga gara-gara lo kan?”
“Terus? Apa hubungannya sama gw Nuriiii???”
“Yah..lo masih suka sama Ari kan Tar? Tapi ga gw terima kok
Si Ari, dia juga kayanya ga serius nembak gwnya..lagian gw juga tau dia itu
sukanya sama lo, bukan sama gw....eehmm, Lo ga marah sama gw kan Tar?”
“Engga kok tenang aja, gw ga marah sama lo...lo mau terima
ato nolak Ari juga itu terserah lo, kalo emang lo suka sama dia, ga peduli itu
mantan gw ato bukan ya silahkan..toh kita kan jauhan, Lo di Bekasi, Ari di
Jakarta, nah gw di Jogja...”
“Tapi lo jangan bilang ke Ari nya kalo gw cerita ke lo dia
nembak gw...”
“Iyaaaa...gw ga akan cerita”
Obrolan selesai. Serius gw ga marah sama Nuri, ga sama sekali, gw juga ngerasa kalo Ari itu cocok sama Nuri. Tapi gw berhak marah sama Ari karna dia bohong sama gw. Akhirnya hari itu juga gw delete nomor hp dia. Seperti biasa tiap hari dia sms dan telpon, tapi ga pernah gw bales dan gw angkat. Gw orang yang suka ngoceh sembarangan waktu emosi, jadi daripada gw ngomong yang engga-engga sama Ari mending gw diemin dia dulu. Toh sebenernya gw udah ga ada hak lagi buat marah sama dia, karna gw bukan siapa-siapanya.
Sudah lewat jam 3 dan gw tetep belum bisa tidur. Gw inget sekitar dua minggu yang lalu, Ari membicarakan Nuri di telpon, Dia nanya ke gw kenapa gw ga bisa jadi orang seperti Nuri yang notabene rame, ceplas ceplos, asyik, gaul, santai. Oke gw emang beda banget sama Nuri, gw cuek, kurang perhatian, rasional, logis, dan semua selalu dipikirin baik ato buruk dan ga kalah jeleknya..gw moody. Gw ga bisa menunjukkan perhatian sepenuhnya walopun gw pengen. Mungkin karna gw ga tau caranya. Tapi gw lebih suka jadi diri gw yang apa adanya seperti ini. Dan gw ga suka diminta untuk menjadi seperti orang lain.
Hari ini gw kesiangan ke kantor, gara-gara gw baru bisa tidur jam setengah empat lewat. Dan hari ini pasien begitu banyaknya. Gw Cuma berdoa, semoga pasien gw semua diberi kesehatan, biar pada pulang dah hari ini..yah walopun ga semua, paling ga setengah deh, biar gw bisa curi-curi waktu sebentar buat tidur. Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk :
Ari : Kamu sibuk ga hari ini?
Belum sempet bales pesan, masuklah panggilan dari nomor yang
tidak asing
“Assalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam, kok lama bales smsnya? Hari ini kamu sibuk
ga?”
“engga siii, paling ada kerjaan dikit-dikit...pasien udah
mau pada pulang sih” gw jawab sekenanya.
“ooohh..ga sibuk donk”
“Enggaklah..”
“Yaudah nanti jam 2 aku jemput ke kantor ya...aku ada
undangan di Hotel deket kantor kamu”
“Hah??emang kamu di Jogja??”
“Iya...sampe ketemu nanti jam 2, Assalammualaikum ”
“Eh...tapi akuu...” Tut tut tut tut...telepon sudah dimatikan
.
Gw kebingungan, di saat seperti ini gw harus ketemu sama dia?. Oke dia ga tau gw marah sama dia, tapi mana bisa gw ketemu sama orang yang gw lagi ga mood sama dia???
Gw liat jam kantor....dan What!!ini jam setengah 2, Oh my
God!bentar lagi dia pasti nongol di kantor! Damn!
Minggu, 22 April 2012
Apa itu cinta part. 2 (End)
“Ra...Ra..Bangun Ra...kantor udah sepi ra, ayo pulang ra”
Tasya membangunkanku yang terlelap di meja kerja. Rupanya aku tertidur saat
membaca novel yang ceritanya sebagian besar sangat mirip dengan yang aku alami.
Aku tadi tertidur dan kembali memimpikan kejadian 2 tahun yang lalu.
“Iya sya, ayo pulang..kepala gw keleyengan nih. Buset ini
kantor udah gelap aja sya...jam berapa sih??
“Jam setengah sebelas ra..ayo pulang, gw juga udah ngantuk.
Noh taksi udah nungguin di depan”
Saat ini aku bekerja sebagai seorang konsultan data di
sebuah perusahaan pemerintah di daerah Jakarta pusat. Aku sudah meninggalkan
kosanku di Bogor 6 bulan yang lalu, tapi masih banyak barang-barang yang aku
tinggalkan disana, diantaranya
barang-barang Medi. Aku sudah
seringkali memintanya untuk mengambil barang-barang serta berkas-berkas penting
yang dulu banyak ia titipkan padaku. Sudah 2 tahun aku tidak berhubungan dekat
dengannya. Saat ini aku sudah bisa melupakannya. Memang tidak mudah, tapi aku
selalu berusaha.
Aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya setelah aku tahu,
bahwa aku bukanlah satu-satunya teman wanita yang ia perlakukan seperti itu.
Masih banyak lagi wanita yang bernasib sama denganku. Hanya yang membedakan
adalah mereka bukan sahabatnya, sedangkan aku adalah sahabat terdekatnya. Aku tidak sepenuhnya menyalahkan dia karena
aku juga turut andil di dalamnya. Aku juga tidak pernah membencinya. Benar kata
Ana , Medi adalah teman yang baik, tapi bukan pria yang baik. Sebagai seorang
teman dia sangatlah baik, selalu membantu saat dibutuhkan, selalu ada di setiap
waktu susah ataupun senang. Dia orang yang pandai, cerdas, dan kata-katanya
selalu menenangkan. Tapi di sisi lain dia bukanlah seorang pria baik yang hanya
bisa bersama dengan satu wanita. Aku tahu walaupun dia selalu bersama banyak
wanita di hatinya hanya ada Evi. Dan suatu saat dia akan berhenti melakukan
semuanya dan kembali padanya.
Drrrtt....drrttt..ddrrttt...
“Halo””
“Udah pulang sayang??” suara dari seberang telepon
“Udah, ini baru aja nyampe”
“Kamu gimana presentasinya tadi??sukses doong...maaf tadi ga
nelpon, aku ketiduran di kantor, hehe”
“pasti memukau lah..ahaha, iya gpp. Yaudah sana istirahat
besok harus masuk pagi lagi kan..”
“Oke bos!kamu juga ya...”
Sekarang aku sudah memiliki orang lain, namanya hendra.
Hendra adalah teman baik Medi, bahkan mereka satu kosan waktu mereka sama-sama
bekerja di daerah Tebet. Tapi sekarang Hendra sudah tidak lagi disana. Dia
sedang mengambil study pasca sarjana di Depok, di UI. Kami baru meresmikan
hubungan kami 4 bulan yang lalu, satu bulan tepat setelah aku memutuskan untuk
mengenakan jilbab. Ya..alhamdulillah sekarang aku sudah mengenakan jilbab,
Insya Allah untuk seterusnya. Aku merasa lebih nyaman dengan penampilanku yang
sekarang. Aku lebih merasa menjadi orang
yang lebih baik sekarang. Hhff...sayang Ana sudah tidak lagi di Jakarta denganku,
dia memutuskan untuk pulang menemani kedua orang tuanya di Jawa jadi tidak ada
yang mengajariku memakai jilbab yang cocok dengan bentuk wajahku.
Aku kenal Hendra sejak 2,5 tahun yang lalu. Aku tidak tahu
karena alasan apa aku jadi dekat dengannya. Aku hanya tahu sejak aku bekerja di
Jakarta, dia lah orang yang selalu bersamaku selain Ana. Dia sering mengantarku
ke kosan Ana bahkan mengantarku pulang ke Bogor. Memang bukan tidak ada tujuan,
dia juga bisa sekalian pulang ke Bogor. Dia juga satu Fakultas denganku dulu.
Tapi aku tahu, banyak sekali kabar miring tentangnya. Tapi itu bukan kabar
miring sepertinya, karena memang begitulah dia. Tapi entah sejak kapan aku
menyukainya. Dia bisa membuatku lupa pada Medi. Padahal aku sudah berusaha
keras sebelumnya untuk melupakan Medi dengan banyak bekerja. Aku sering lembur,
aku bahkan menerima konsulitasi untuk para mahasiswa pasca di beberapa
Universitas, aku juga menjadi konsultan untuk seorang temanku yang saat itu
sedang mengambil study di Inggris. Aku juga mengajar mahasiswa pasca dan
mengambil beberapa proyek konsultan di Bogor. Tapi ternyata bekerja saja tidak
cukup untuk membuatku lupa pada Medi.
Hendra mengubah semuanya. Dia membuatku melupakan semuanya
dan memulainya lagi dari awal. Mungkin karena pribadinya yang di luar dugaan.
Jauh dari romantis, jauh dari baik, jauh dari trendi, jauh dari gombal, tapi
dia dekat dengan cinta. Dia selalu melakukan semua hal karena cinta. Dia
mencintai keluarganya, dia mencintai pekerjaannya, dia mencintai pendidikannya,
dan dia mencintaiku. Sekarang aku tahu apa itu cinta. Sekarang baru aku merasa
inilah cinta. Cinta yang selalu membuatku bahagia bersamanya.
Kini aku sudah memulai semuanya dari awal lagi, dengan
penampilan baruku yang labih baik, dengan seseorang yang baru, dan dengan
pekerjaanku yang baru.
"Hei, DRM"
"Apa"
" Beliin aku pulsa dong 50ribu"
"Iya"
"Hei DRM"
"Apa"
"Masak ya dikosanmu"
"Iya"
"Hei DRM"
"Apa"
"pinjem motor yo"
" Iya"
"Hei DRM"
"iya"
"kucingan yok"
"ayo"
"Hei DRM" hanya dari sebuah percakapan sederhana, inilah awal dari kita :)
Rabu, 18 April 2012
Apa itu Cinta part. 1
Bangun pagi adalah hal yang paling tidak aku sukai, karena
itu aku selalu bangun setengah jam sebelum waktu kuliah. Ini hari Senin, dan aku suka hari ini karena
hari ini aku tidak perlu membuka mataku lebih pagi dari biasanya. aku hanya
perlu bangun pagi untuk sholat shubuh dan kembali mengistirahatkan mataku dan
sedikit lebih lama memanjakan badanku bersama bantal dan guling. Lagi pula di
kamar ini perbedaan siang dan dan malam tidak terlalu terasa. Bagiku ini kadang
menguntungkan tapi kadang juga merugikan.
Ddrttt...ddrrrtt...hapeku bergetar tanpa bunyi karena
sengaja aku sett daam mode diam, karena aku tidak mau tidurku terganggu di hari
yang spesial ini (karena tak perlu bangun pagi). Aku diamkan dan sama sekali
tak kusentuh. Aku membiarkan hapeku bergetar 2 kali.
Ddrrttt..ddrrrttt....drrrtttt...drrtttt...drrttt...
“ah berisik
sekali!!!siapa berani menelponku pagi2 begini sih??? “Halo” aku mengangkat
panggilan dengan suara tak senang.
“Belum bangun nduk??? Ini udah jam berapa? Bangun tho..”
suara di seberang telepon.
“Males, lagian masih pagi ga mau ngapa-ngapain”
“ayo bangun nduk, kita sarapan terus anter aku ke kota ada
yang mau aku beli”
“jam berapa??mau beli apa si emang?”
“sejam lagi ya aku jemput ke kosanmu ya, harus udah mandi ya
nduk”
“iyaaaaaa....” aku menutup telepon.
Dia Medi temen kuliahku. Dia dan aku sama-sama orang Jawa.
Saat ini kami sedang mengambil kuliah di sebuah Kota di Jawa Barat, Kota hujan,
Bogor. Awalnya kami hanya teman biasa, tapi entah sejak kapan kami menjadi
lebih dekat dan kedekatan ini lebih dari sekedar teman biasa. Aku tahu apa yang
aku lakukan ini salah karena Medi sudah memiliki seorang tunangan yang saat ini
tengah mangambil study di Solo. Namanya Devi. Aku tahu dan Medi tahu karena ia
mengenakan cincin tunangannya. Tapi
hubungan yang kami jalani saat ini juga tidak bisa dikatakan sebuah pertemanan,
namun sepasang kekasih pun bukan karena kami tidak pernah mengikrarkannya. Kami
hanya menjalani hubungan yang ada. Dan aku tahu, ini hubungan yang jauh dari
sebuah pertemanan.
Hari ini aku akan mengantar Medi ke kota untuk membeli
sesuatu. Ini bukan kali pertama aku mengantarnya membeli sesuatu. Yang kami
lakukan tidak hanya itu. Bergandengan tangan, berpelukan dan hal-hal yang
layaknya dilakukan orang yang berpacaran aku melakukannya bersama Medi dan di
luar sepengetahuan Devi. Aku tahu ini tidak boleh, aku tahu ini salah tapi
apakah salah jika aku mencintai seseorang??Hanya aku mencintai seseorang yang
tidak tepat dan di waktu yang tidak tepat pula. Bukan hanya aku yang mengetahui
hubungan kami berdua, Ada Ana yang selalu mendengarkan ceritaku tentang Medi,
Ada Rina yang sekamar kosan denganku, Dan aku tahu banyak teman sekelas kami
yang bisa melihat hubungan kami. Aku tidak tahu apa yang aku harus mengakhiri. Aku
ingin, tapi aku tidak bisa. Bukan aku tidak bisa menjauh darinya, tapi dia yang
terus mendekat padaku. Tidak jarang dia menerima telpon dan membalas sms dari
tunangannya itu saat kami sedang berdua. Kadang aku jengkel tapi aku tahu saat
ini aku hanya temannya walau hubungan kami tidak terlihat seperti itu. Walau
aku berusaha untuk lepas darinya tapi itu sungguh tidak mudah. Kami sudah
menjalani ini lebih dari satu tahun. Kadang kami memutuskan untuk berhenti,
tapi tak jarang kami selalu berbaikan dan menjalaninya lagi.
“Ra, Diraaa...udah siap??” Medi sudah berada di teras kamar
kosku.
“Iya bentar juga beres” aku keluar “Ayok, mau kemana kita??” Tanyaku padanya.
“Aku mau beli sepatu nduk,, Kita ke Botani yok”
“Yo wes ayok”
Kami berangkat ke Botani Square pagi itu. Seperti biasa kami
tidak hanya membeli barang yang kami tuju saja, tapi kami juga nonton ke bioskop,
makan dan jalan-jalan. Dia tidak pernah membiarkanku melepaskan tanganku dari
pinggangnya ketika di kendaraan. Aku harus memeluk pinggangnya, dan dia akan
selalu memegang kedua tanganku dengan tangan kirinya. Dia selalu menggandeng tanganku saat berjalan
dan tidak pernah membiarkan melepaskannya sebentar saja. Sore kami pulang dan dia mengantarku sampai di teras kosan. Seperti
biasa dia tak langsung beranjak. Dia selalu duduk di bangku putih dan mengajaku
berdua disana. Entah apa saja yang kami bicarakan, sudah terlalu banyak. Dia
lelah dan dia merebahkan badannya di pangkuanku dan memejamkan matanya.
Sepertinya dia tertidur hingga handphonennya berbunyi. Aku tahu itu dari Devi.
Dia melihatnya sejenak tanpa menjawabnya. Dia memejamkan lagi matanya. Tapi tak
lama kemudian berbunyi kembali handphonenya.
Itu sebuah pesan. Dia beranjak dari pangkuanku dan duduk santai sambil membalas
pesan itu.
“Devi??”
“Iya”
“Telpon aja”
“Engga ah, capek”
Kami diam sejenak. Ada sesuatu yang membekukan kami berdua.
Dia menunduk entah karena terlalu lelah atau karena pesan yang baru
diterimanya. Dia selalu tidak suka saat aku menjawab telpon atau membalas pesan
saat sedang bersamanya. Tapi aku tidak pernah bisa melarangnya melakukan hal
yang sama.
“Pulang sana” aku meyuruhnya segera meninggalkan kosanku.
“Bentar, masih mau disini”
“Udah malem sih”
“Bentar nduk”
Aku agak jengkel melihat tingkahnya. Bukan sekali atau dua
kali dia melakukan ini. Aku diam. Aku sedang tidak ingin bertengkar
karena aku sudah terlalu lelah. Tak lama kemudian dia berdiri dan berpamitan padaku. Aku ikut berdiri dan dia mencium keningku saat berpamitan.
“Aku pulang ya...”
Äku terdiam tak mengatakan apapun. Dia masih berdiri didepanku dan menunggu aku menjawab kata-katanya. Aku mengangkat
wajahku dan...
“Medi, bisa kan kita selesai sampai disini???”
Dia terlihat kaget dan ingin mengatakan sesuatu.
“Aku ini temenmu, gimana bisa kamu begini ke aku....kita
udahan. Kita temenan lagi kaya dulu. Ga perlu lagi kaya gini. Aku ga nyalahin
kamu sepenuhnya toh aku juga salah. Kamu sayangkan sama Devi. Aku juga sayang
sama kamu tapi aku ga mau kaya gini terus. Kamu hargai aku bisa kan sebagai
teman??”
Aku
mengatakan banyak hal padanya, bahkan mungkin itu yang menyakiti perasaanku
sendiri dan perasaannya. Untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis.Jumat, 16 Maret 2012
Dream of Love
Untuk
seseorang yang jauh disana
Aku
merindukankanmu seperti matahari merindukan bulan
Aku
merindukanmu seperti hujan merindukan pelangi
Aku
merindukanmu seperti kepompong merindukan sayapnya
Aku
merindukanmu
Ini
ketiga kalinya aku memimpikanmu, mimpi yang selalu membuatku menangis ketika aku
terbangun dari tidurku. Entah sudah berapa tahun aku tidak mengetahui kabarnya,
dan aku yakin dia pun tidak mengetahui kabarku atau bahkan tidak ingin
mengetahui kabarku.
Hari ini
aku terbangun dengan rasa sakit, dada sesak dan mata penuh dengan air mata. Aku
yakin setiap orang pernah mengalaminya.
Kami
berada di sebuah acara, sepertinya itu sebuah acara reuni alumnus mahasiswa
gizi, karena disana aku bertemu dengan beberapa sahabat lamaku, David, Cantika,
Sani, Dara, dan Dede. Sepertinya tidak ada yang berubah dari mereka saat itu
kecuali penampilan mereka yang berbeda karena semua telah berpenghasilan.
Senang sekali rasanya berada kembali di tengah-tengah mereka setelah rasanya
bertahun-tahun lamanya aku menghilang karena aku merasa minder terhadap mereka
semuanya. Acara itu diadakan di sebuah tempat yang aku tak tahu itu dimana,
seperti sebuah tempat makan sederhana yang berdekatan dengan tempat tinggalku
sementara di Jakarta. Seperti biasa kami bercanda, sepertinya kali ini kami
merasa kembali menjadi seorang mahasiswa yang bebas melakukan apa saja. Ada
satu yang berubah, formasi kami. Karena sekarang David dan Cantika berstatus
pacaran, atau bahkan ber tunangan.
Entah
apa yang ingin aku lakukan, aku beranjak dari tempat itu dan kembali ke kosan
bukan untuk waktu yang lama tapi hanya sekedar ingin mengambil sesuatu. Kosan
ku cukup besar untuk menampung beberapa orang memang. Tapi aku tidak menyangka
bahwa saat itu di dalam kamar sudah ada dua orang tamu yang telah menungguku
cukup lama. Adna dan kekasihnya. Perlahan aku membuka pintu kamar yang tidak ku
kunci karena aku tidak ingin menggangu tetangga kosanku yang lain. Tapi aku
cukup dikagetkan dengan keberadaan dua orang tersebut disana. Aku tidak tahu
bagaimana mereka bisa di kosanku, bukan di acara reuni, tempat seharusnya
mereka berada. Aku menyambut mereka dengan senyum, lebih tepatnya mereka yang menyambutku. Aku berdiri di depan mereka, tanpa kata-kata
dengan melempar senyum dengan perasaan heran untuk apa mereka datang. Cukup
lama aku berdiri dengan terlihat bingung hingga akhirnya aku memutuskan untuk
duduk dan beramah tamah dengan keduanya. Adna adalah sahabat terdekatku dan
kekasihnya berarti sahabatku juga. Yah..bisa dibilang begitu. Belum sempurna
posisi dudukku di antara mereka Adna sudah mengagetkanku dengan beberapa
kalimat yang ia katakan dengan ringan tanpa beban. Aku tak berharap dia
mengatakan apapun sebernarnya. “Aku liat catatan kecilmu di tembok” . Jantungku
serasa berhenti, ruangan ini tiba-tiba terasa sempit dan menyeramkan. Ingin
rasanya aku bisa menghilang saat itu juga. Adna membaca catatan kecil doaku
yang aku tempel di dinding kamarku, yang aku tuliskan namanya disana. Aku
menuliskan harapanku untuk dapat hidup dengannya di kertas kecil itu. Aku
benar-benar menuliskan namanya di kertas itu walaupun telah bertahun-tahun aku
tidak bertemu dengannya. Ada beberapa coretan di nama itu, ya..itu coretan yang
aku buat ketika aku sedih. aku memang
merasa labil, kadangkala aku memang ingin menghapus namanya dari hidupku, tapi
aku merasa bukan hal mudah melakukannya.
Dia
mengatakannya dengan senyum bahagia, aku tidak tahu maksudnya karena ia
mengatakannya di depan kekasihnya yang juga melempar sedikit senyum manis
padaku. Dia bahkan menanyakan bagaimana bisa ada namanya di kertas kecil
catatan doaku itu. Harusnya dia tidak menanyakannya. “Kau suka padaku??”
Rasanya aku benar-benar ingin keluar dari situasi ini. “Mon....” ia memanggilku
dengan nada bicara seperti dulu, seperti saat ia belum bersama kekasihnya itu.
“Ya” Spontan aku menjawabnya...”Aku dulu memang menyukaimu”. Aku berpikir pasti
dia akan menganggapku wanita aneh yang diam-diam menyukainya. Tapi tidak, dia
justru tersenyum. Dia bahkan mengambil buku Diaryku dan bermaksud untuk
membacanya, Aku tidak tahu apa maksudnya dia melakukan itu, aku segera merebut
buku itu dari tangannya dan segera merapikannya kembali. Aku masih bingung
dengan tingkah lakunya itu hingga akhirnya dia bersama kekasihnya itu
meninggalkan kamarku sementara saat aku
akan pergi mengambil minuman untuk mereka di dapur. Tapi aku tetap beranjak ke
dapur, karena aku ingin sedikit menenangkan hati.
Aku
keluar kamar untuk mengambil air minum untuk dua orang tamu istimewaku itu.
Cukup lama aku keluar sampai akhirnya Dara pun datang ke kosanku. Dia menarik
tanganku dan sepertinya ingin mengatakan suatu hal yang serius. “Mon sini deh”
Dia menarik ku ke sebuah tempat duduk. “ Mon, lu dulu suka sama Adna???” raut
wajahnya sangat seruis tetapi dia tetap cantik dengan senyum seriusnya itu, dia
memang sahabatku yang paling cantik. “kok lu nanya gitu” aku belum mau menjawab
pertanyaannya, aku sangat kaget, kenapa hari ini banyak yang menanyakan hal itu
padaku. “Adna barusan nemuin gue, dia bilang lu dulu suka sama dia, mungkin
kalian belum jodoh aja karena sebenernya dia dulu juga suka sama lu. Dia dulu
bener-bener suka sama lu, tapi dia ngerasa lu biasa-biasa aja sama dia, sampe
akhirnya dia jadian sama Zahra. Kalian belum beruntung aja ga bisa jadian”
Jantungku terasa berdetak lebih cepat dan lebih lebih lebih keras dari
biasanya. Ada perasaan menyesal yang tak tertahankan. “Kalo gitu gue pulang
dulu yak, gue buru-buru” Aku tetap terduduk ditempat itu, aku tidak
menghiraukan Dara yang berpamitan pulang. Aku masih ternging kata-kata Dara
bahwa Adna juga menyukaiku, betapa bodohnya aku. Aku menerawang ke beberapa
tahun yang lalu, kenapa aku harus menghindarinya, menolak semua
kebaikan-kebaikan dia, bukan karena aku tidak suka, tetapi karena aku takut dia
yang akan menghindariku kalau tahu aku menyukainya. Bodohnya aku, kenapa aku
justru menjauh darinya saat sebenarnya dia mulai mendekatkan diri padaku. Aku
kembali ke kamar. Aku melupakan tujuan utamaku mengambil air minum untuk dua
orang tamuku yang telah kembali ke kamar. Adna dan kekasihnya telah berada di
kamarku. Mereka hanya keluar sebentar untuk menemui sahabat-sahabat lama kami
dan segera kembali ke kosanku.
Untuk
kesekian kalinya aku dibuat kaget oleh kedua tamuku itu. Kamarku telah disulap
menjadi sebuah kamar dengan dua tempat tidur dan sangat terlihat rapi. Yah, Adna
merapikan kamarku. Kami duduk bertiga di kamar tanpa banyak berbincang-bincang,
hanya ada senyum di wajah kedua tamuku itu. Beberapa waktu terdiam akhirnya
kami pun memulai perbincangan, membahas berbagai hal, tapi tak jauh dari kami
bertiga, aku merasa saat ini seharusnya aku tidak ikut campur lagi dalam
kehidupan mereka berdua. Aku hanya akan menimbulkan masalah bagi mereka, “Kak, boeh
aku kos disini???aku sekamar sama kakak ya...” Apa ini??kenapa tiba-tiba???apa
maksudnya ini? Aku benar-benar dibuat bingung oleh keduanya, mereka tampak
tersenyum penuh arti. Sepertinya ada sesuatu dibalik semua ini.
Aku
terbangun oleh suara anak-anak kecil di depan kosan. Sedih sekali rasanya, aku
menemui kenyataan yang berbeda, sangat jauh berbeda. Kenyataanya Adna tidak
pernah tahu aku menyukainya, Aku tidak pernah tahu bagaimana perasaannya
padaku, tapi aku tahu Adna dan kekasihnya telah bahagia dan aku tidak pernah
ada diantara mereka. Mimpi yang kadang membuatku tak ingin terbangun, mimpi
yang membuatku terus memiliki harapan. Tapi saat logika mengalahkan semuanya,
realita lah yang berbicara. Terima kasih Tuhan kau telah memberikan rasa cinta,
memberiku kesempatan indahnya mencintai dan mengerti bahwa cinta tidak harus
memiliki.
Langganan:
Postingan (Atom)