“Ra...Ra..Bangun Ra...kantor udah sepi ra, ayo pulang ra”
Tasya membangunkanku yang terlelap di meja kerja. Rupanya aku tertidur saat
membaca novel yang ceritanya sebagian besar sangat mirip dengan yang aku alami.
Aku tadi tertidur dan kembali memimpikan kejadian 2 tahun yang lalu.
“Iya sya, ayo pulang..kepala gw keleyengan nih. Buset ini
kantor udah gelap aja sya...jam berapa sih??
“Jam setengah sebelas ra..ayo pulang, gw juga udah ngantuk.
Noh taksi udah nungguin di depan”
Saat ini aku bekerja sebagai seorang konsultan data di
sebuah perusahaan pemerintah di daerah Jakarta pusat. Aku sudah meninggalkan
kosanku di Bogor 6 bulan yang lalu, tapi masih banyak barang-barang yang aku
tinggalkan disana, diantaranya
barang-barang Medi. Aku sudah
seringkali memintanya untuk mengambil barang-barang serta berkas-berkas penting
yang dulu banyak ia titipkan padaku. Sudah 2 tahun aku tidak berhubungan dekat
dengannya. Saat ini aku sudah bisa melupakannya. Memang tidak mudah, tapi aku
selalu berusaha.
Aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya setelah aku tahu,
bahwa aku bukanlah satu-satunya teman wanita yang ia perlakukan seperti itu.
Masih banyak lagi wanita yang bernasib sama denganku. Hanya yang membedakan
adalah mereka bukan sahabatnya, sedangkan aku adalah sahabat terdekatnya. Aku tidak sepenuhnya menyalahkan dia karena
aku juga turut andil di dalamnya. Aku juga tidak pernah membencinya. Benar kata
Ana , Medi adalah teman yang baik, tapi bukan pria yang baik. Sebagai seorang
teman dia sangatlah baik, selalu membantu saat dibutuhkan, selalu ada di setiap
waktu susah ataupun senang. Dia orang yang pandai, cerdas, dan kata-katanya
selalu menenangkan. Tapi di sisi lain dia bukanlah seorang pria baik yang hanya
bisa bersama dengan satu wanita. Aku tahu walaupun dia selalu bersama banyak
wanita di hatinya hanya ada Evi. Dan suatu saat dia akan berhenti melakukan
semuanya dan kembali padanya.
Drrrtt....drrttt..ddrrttt...
“Halo””
“Udah pulang sayang??” suara dari seberang telepon
“Udah, ini baru aja nyampe”
“Kamu gimana presentasinya tadi??sukses doong...maaf tadi ga
nelpon, aku ketiduran di kantor, hehe”
“pasti memukau lah..ahaha, iya gpp. Yaudah sana istirahat
besok harus masuk pagi lagi kan..”
“Oke bos!kamu juga ya...”
Sekarang aku sudah memiliki orang lain, namanya hendra.
Hendra adalah teman baik Medi, bahkan mereka satu kosan waktu mereka sama-sama
bekerja di daerah Tebet. Tapi sekarang Hendra sudah tidak lagi disana. Dia
sedang mengambil study pasca sarjana di Depok, di UI. Kami baru meresmikan
hubungan kami 4 bulan yang lalu, satu bulan tepat setelah aku memutuskan untuk
mengenakan jilbab. Ya..alhamdulillah sekarang aku sudah mengenakan jilbab,
Insya Allah untuk seterusnya. Aku merasa lebih nyaman dengan penampilanku yang
sekarang. Aku lebih merasa menjadi orang
yang lebih baik sekarang. Hhff...sayang Ana sudah tidak lagi di Jakarta denganku,
dia memutuskan untuk pulang menemani kedua orang tuanya di Jawa jadi tidak ada
yang mengajariku memakai jilbab yang cocok dengan bentuk wajahku.
Aku kenal Hendra sejak 2,5 tahun yang lalu. Aku tidak tahu
karena alasan apa aku jadi dekat dengannya. Aku hanya tahu sejak aku bekerja di
Jakarta, dia lah orang yang selalu bersamaku selain Ana. Dia sering mengantarku
ke kosan Ana bahkan mengantarku pulang ke Bogor. Memang bukan tidak ada tujuan,
dia juga bisa sekalian pulang ke Bogor. Dia juga satu Fakultas denganku dulu.
Tapi aku tahu, banyak sekali kabar miring tentangnya. Tapi itu bukan kabar
miring sepertinya, karena memang begitulah dia. Tapi entah sejak kapan aku
menyukainya. Dia bisa membuatku lupa pada Medi. Padahal aku sudah berusaha
keras sebelumnya untuk melupakan Medi dengan banyak bekerja. Aku sering lembur,
aku bahkan menerima konsulitasi untuk para mahasiswa pasca di beberapa
Universitas, aku juga menjadi konsultan untuk seorang temanku yang saat itu
sedang mengambil study di Inggris. Aku juga mengajar mahasiswa pasca dan
mengambil beberapa proyek konsultan di Bogor. Tapi ternyata bekerja saja tidak
cukup untuk membuatku lupa pada Medi.
Hendra mengubah semuanya. Dia membuatku melupakan semuanya
dan memulainya lagi dari awal. Mungkin karena pribadinya yang di luar dugaan.
Jauh dari romantis, jauh dari baik, jauh dari trendi, jauh dari gombal, tapi
dia dekat dengan cinta. Dia selalu melakukan semua hal karena cinta. Dia
mencintai keluarganya, dia mencintai pekerjaannya, dia mencintai pendidikannya,
dan dia mencintaiku. Sekarang aku tahu apa itu cinta. Sekarang baru aku merasa
inilah cinta. Cinta yang selalu membuatku bahagia bersamanya.
Kini aku sudah memulai semuanya dari awal lagi, dengan
penampilan baruku yang labih baik, dengan seseorang yang baru, dan dengan
pekerjaanku yang baru.
"Hei, DRM"
"Apa"
" Beliin aku pulsa dong 50ribu"
"Iya"
"Hei DRM"
"Apa"
"Masak ya dikosanmu"
"Iya"
"Hei DRM"
"Apa"
"pinjem motor yo"
" Iya"
"Hei DRM"
"iya"
"kucingan yok"
"ayo"
"Hei DRM" hanya dari sebuah percakapan sederhana, inilah awal dari kita :)
1 komentar:
Aku suka kalimat ini
"Mungkin karena pribadinya yang di luar dugaan. Jauh dari romantis, jauh dari baik, jauh dari trendi, jauh dari gombal, tapi dia dekat dengan cinta. Dia selalu melakukan semua hal karena cinta. Dia mencintai keluarganya, dia mencintai pekerjaannya, dia mencintai pendidikannya, dan dia mencintaiku. Sekarang aku tahu apa itu cinta. Sekarang baru aku merasa inilah cinta. Cinta yang selalu membuatku bahagia bersamanya."
Posting Komentar