Minggu, 22 April 2012

Apa itu cinta part. 2 (End)

“Ra...Ra..Bangun Ra...kantor udah sepi ra, ayo pulang ra” Tasya membangunkanku yang terlelap di meja kerja. Rupanya aku tertidur saat membaca novel yang ceritanya sebagian besar sangat mirip dengan yang aku alami. Aku tadi tertidur dan kembali memimpikan kejadian 2 tahun yang lalu.
“Iya sya, ayo pulang..kepala gw keleyengan nih. Buset ini kantor udah gelap aja sya...jam berapa sih??
“Jam setengah sebelas ra..ayo pulang, gw juga udah ngantuk. Noh taksi udah nungguin di depan”
Saat ini aku bekerja sebagai seorang konsultan data di sebuah perusahaan pemerintah di daerah Jakarta pusat. Aku sudah meninggalkan kosanku di Bogor 6 bulan yang lalu, tapi masih banyak barang-barang yang aku tinggalkan disana, diantaranya  barang-barang Medi.  Aku sudah seringkali memintanya untuk mengambil barang-barang serta berkas-berkas penting yang dulu banyak ia titipkan padaku. Sudah 2 tahun aku tidak berhubungan dekat dengannya. Saat ini aku sudah bisa melupakannya. Memang tidak mudah, tapi aku selalu berusaha.
Aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya setelah aku tahu, bahwa aku bukanlah satu-satunya teman wanita yang ia perlakukan seperti itu. Masih banyak lagi wanita yang bernasib sama denganku. Hanya yang membedakan adalah mereka bukan sahabatnya, sedangkan aku adalah sahabat terdekatnya.  Aku tidak sepenuhnya menyalahkan dia karena aku juga turut andil di dalamnya. Aku juga tidak pernah membencinya. Benar kata Ana , Medi adalah teman yang baik, tapi bukan pria yang baik. Sebagai seorang teman dia sangatlah baik, selalu membantu saat dibutuhkan, selalu ada di setiap waktu susah ataupun senang. Dia orang yang pandai, cerdas, dan kata-katanya selalu menenangkan. Tapi di sisi lain dia bukanlah seorang pria baik yang hanya bisa bersama dengan satu wanita. Aku tahu walaupun dia selalu bersama banyak wanita di hatinya hanya ada Evi. Dan suatu saat dia akan berhenti melakukan semuanya dan kembali padanya.
Drrrtt....drrttt..ddrrttt...
“Halo””
“Udah pulang sayang??” suara dari seberang telepon
“Udah, ini baru aja nyampe”
“Kamu gimana presentasinya tadi??sukses doong...maaf tadi ga nelpon, aku ketiduran di kantor, hehe”
“pasti memukau lah..ahaha, iya gpp. Yaudah sana istirahat besok harus masuk pagi lagi kan..”
“Oke bos!kamu juga ya...”
Sekarang aku sudah memiliki orang lain, namanya hendra. Hendra adalah teman baik Medi, bahkan mereka satu kosan waktu mereka sama-sama bekerja di daerah Tebet. Tapi sekarang Hendra sudah tidak lagi disana. Dia sedang mengambil study pasca sarjana di Depok, di UI. Kami baru meresmikan hubungan kami 4 bulan yang lalu, satu bulan tepat setelah aku memutuskan untuk mengenakan jilbab. Ya..alhamdulillah sekarang aku sudah mengenakan jilbab, Insya Allah untuk seterusnya. Aku merasa lebih nyaman dengan penampilanku yang sekarang.  Aku lebih merasa menjadi orang yang lebih baik sekarang. Hhff...sayang Ana sudah tidak lagi di Jakarta denganku, dia memutuskan untuk pulang menemani kedua orang tuanya di Jawa jadi tidak ada yang mengajariku memakai jilbab yang cocok dengan bentuk wajahku.
Aku kenal Hendra sejak 2,5 tahun yang lalu. Aku tidak tahu karena alasan apa aku jadi dekat dengannya. Aku hanya tahu sejak aku bekerja di Jakarta, dia lah orang yang selalu bersamaku selain Ana. Dia sering mengantarku ke kosan Ana bahkan mengantarku pulang ke Bogor. Memang bukan tidak ada tujuan, dia juga bisa sekalian pulang ke Bogor. Dia juga satu Fakultas denganku dulu. Tapi aku tahu, banyak sekali kabar miring tentangnya. Tapi itu bukan kabar miring sepertinya, karena memang begitulah dia. Tapi entah sejak kapan aku menyukainya. Dia bisa membuatku lupa pada Medi. Padahal aku sudah berusaha keras sebelumnya untuk melupakan Medi dengan banyak bekerja. Aku sering lembur, aku bahkan menerima konsulitasi untuk para mahasiswa pasca di beberapa Universitas, aku juga menjadi konsultan untuk seorang temanku yang saat itu sedang mengambil study di Inggris. Aku juga mengajar mahasiswa pasca dan mengambil beberapa proyek konsultan di Bogor. Tapi ternyata bekerja saja tidak cukup untuk membuatku lupa pada Medi.
Hendra mengubah semuanya. Dia membuatku melupakan semuanya dan memulainya lagi dari awal. Mungkin karena pribadinya yang di luar dugaan. Jauh dari romantis, jauh dari baik, jauh dari trendi, jauh dari gombal, tapi dia dekat dengan cinta. Dia selalu melakukan semua hal karena cinta. Dia mencintai keluarganya, dia mencintai pekerjaannya, dia mencintai pendidikannya, dan dia mencintaiku. Sekarang aku tahu apa itu cinta. Sekarang baru aku merasa inilah cinta. Cinta yang selalu membuatku bahagia bersamanya. 

Kini aku sudah memulai semuanya dari awal lagi, dengan penampilan baruku yang labih baik, dengan seseorang yang baru, dan dengan pekerjaanku yang baru. 

"Hei, DRM"
"Apa"
" Beliin aku pulsa dong 50ribu"
"Iya"

"Hei DRM"
"Apa"
"Masak ya dikosanmu"
"Iya"

"Hei DRM"
"Apa"
"pinjem motor yo"
" Iya"

"Hei DRM"
"iya"
"kucingan yok"
"ayo"

"Hei DRM" hanya dari sebuah percakapan sederhana, inilah awal dari kita :)

1 komentar:

ugly diraf mengatakan...

Aku suka kalimat ini
"Mungkin karena pribadinya yang di luar dugaan. Jauh dari romantis, jauh dari baik, jauh dari trendi, jauh dari gombal, tapi dia dekat dengan cinta. Dia selalu melakukan semua hal karena cinta. Dia mencintai keluarganya, dia mencintai pekerjaannya, dia mencintai pendidikannya, dan dia mencintaiku. Sekarang aku tahu apa itu cinta. Sekarang baru aku merasa inilah cinta. Cinta yang selalu membuatku bahagia bersamanya."