Bangun pagi adalah hal yang paling tidak aku sukai, karena
itu aku selalu bangun setengah jam sebelum waktu kuliah. Ini hari Senin, dan aku suka hari ini karena
hari ini aku tidak perlu membuka mataku lebih pagi dari biasanya. aku hanya
perlu bangun pagi untuk sholat shubuh dan kembali mengistirahatkan mataku dan
sedikit lebih lama memanjakan badanku bersama bantal dan guling. Lagi pula di
kamar ini perbedaan siang dan dan malam tidak terlalu terasa. Bagiku ini kadang
menguntungkan tapi kadang juga merugikan.
Ddrttt...ddrrrtt...hapeku bergetar tanpa bunyi karena
sengaja aku sett daam mode diam, karena aku tidak mau tidurku terganggu di hari
yang spesial ini (karena tak perlu bangun pagi). Aku diamkan dan sama sekali
tak kusentuh. Aku membiarkan hapeku bergetar 2 kali.
Ddrrttt..ddrrrttt....drrrtttt...drrtttt...drrttt...
“ah berisik
sekali!!!siapa berani menelponku pagi2 begini sih??? “Halo” aku mengangkat
panggilan dengan suara tak senang.
“Belum bangun nduk??? Ini udah jam berapa? Bangun tho..”
suara di seberang telepon.
“Males, lagian masih pagi ga mau ngapa-ngapain”
“ayo bangun nduk, kita sarapan terus anter aku ke kota ada
yang mau aku beli”
“jam berapa??mau beli apa si emang?”
“sejam lagi ya aku jemput ke kosanmu ya, harus udah mandi ya
nduk”
“iyaaaaaa....” aku menutup telepon.
Dia Medi temen kuliahku. Dia dan aku sama-sama orang Jawa.
Saat ini kami sedang mengambil kuliah di sebuah Kota di Jawa Barat, Kota hujan,
Bogor. Awalnya kami hanya teman biasa, tapi entah sejak kapan kami menjadi
lebih dekat dan kedekatan ini lebih dari sekedar teman biasa. Aku tahu apa yang
aku lakukan ini salah karena Medi sudah memiliki seorang tunangan yang saat ini
tengah mangambil study di Solo. Namanya Devi. Aku tahu dan Medi tahu karena ia
mengenakan cincin tunangannya. Tapi
hubungan yang kami jalani saat ini juga tidak bisa dikatakan sebuah pertemanan,
namun sepasang kekasih pun bukan karena kami tidak pernah mengikrarkannya. Kami
hanya menjalani hubungan yang ada. Dan aku tahu, ini hubungan yang jauh dari
sebuah pertemanan.
Hari ini aku akan mengantar Medi ke kota untuk membeli
sesuatu. Ini bukan kali pertama aku mengantarnya membeli sesuatu. Yang kami
lakukan tidak hanya itu. Bergandengan tangan, berpelukan dan hal-hal yang
layaknya dilakukan orang yang berpacaran aku melakukannya bersama Medi dan di
luar sepengetahuan Devi. Aku tahu ini tidak boleh, aku tahu ini salah tapi
apakah salah jika aku mencintai seseorang??Hanya aku mencintai seseorang yang
tidak tepat dan di waktu yang tidak tepat pula. Bukan hanya aku yang mengetahui
hubungan kami berdua, Ada Ana yang selalu mendengarkan ceritaku tentang Medi,
Ada Rina yang sekamar kosan denganku, Dan aku tahu banyak teman sekelas kami
yang bisa melihat hubungan kami. Aku tidak tahu apa yang aku harus mengakhiri. Aku
ingin, tapi aku tidak bisa. Bukan aku tidak bisa menjauh darinya, tapi dia yang
terus mendekat padaku. Tidak jarang dia menerima telpon dan membalas sms dari
tunangannya itu saat kami sedang berdua. Kadang aku jengkel tapi aku tahu saat
ini aku hanya temannya walau hubungan kami tidak terlihat seperti itu. Walau
aku berusaha untuk lepas darinya tapi itu sungguh tidak mudah. Kami sudah
menjalani ini lebih dari satu tahun. Kadang kami memutuskan untuk berhenti,
tapi tak jarang kami selalu berbaikan dan menjalaninya lagi.
“Ra, Diraaa...udah siap??” Medi sudah berada di teras kamar
kosku.
“Iya bentar juga beres” aku keluar “Ayok, mau kemana kita??” Tanyaku padanya.
“Aku mau beli sepatu nduk,, Kita ke Botani yok”
“Yo wes ayok”
Kami berangkat ke Botani Square pagi itu. Seperti biasa kami
tidak hanya membeli barang yang kami tuju saja, tapi kami juga nonton ke bioskop,
makan dan jalan-jalan. Dia tidak pernah membiarkanku melepaskan tanganku dari
pinggangnya ketika di kendaraan. Aku harus memeluk pinggangnya, dan dia akan
selalu memegang kedua tanganku dengan tangan kirinya. Dia selalu menggandeng tanganku saat berjalan
dan tidak pernah membiarkan melepaskannya sebentar saja. Sore kami pulang dan dia mengantarku sampai di teras kosan. Seperti
biasa dia tak langsung beranjak. Dia selalu duduk di bangku putih dan mengajaku
berdua disana. Entah apa saja yang kami bicarakan, sudah terlalu banyak. Dia
lelah dan dia merebahkan badannya di pangkuanku dan memejamkan matanya.
Sepertinya dia tertidur hingga handphonennya berbunyi. Aku tahu itu dari Devi.
Dia melihatnya sejenak tanpa menjawabnya. Dia memejamkan lagi matanya. Tapi tak
lama kemudian berbunyi kembali handphonenya.
Itu sebuah pesan. Dia beranjak dari pangkuanku dan duduk santai sambil membalas
pesan itu.
“Devi??”
“Iya”
“Telpon aja”
“Engga ah, capek”
Kami diam sejenak. Ada sesuatu yang membekukan kami berdua.
Dia menunduk entah karena terlalu lelah atau karena pesan yang baru
diterimanya. Dia selalu tidak suka saat aku menjawab telpon atau membalas pesan
saat sedang bersamanya. Tapi aku tidak pernah bisa melarangnya melakukan hal
yang sama.
“Pulang sana” aku meyuruhnya segera meninggalkan kosanku.
“Bentar, masih mau disini”
“Udah malem sih”
“Bentar nduk”
Aku agak jengkel melihat tingkahnya. Bukan sekali atau dua
kali dia melakukan ini. Aku diam. Aku sedang tidak ingin bertengkar
karena aku sudah terlalu lelah. Tak lama kemudian dia berdiri dan berpamitan padaku. Aku ikut berdiri dan dia mencium keningku saat berpamitan.
“Aku pulang ya...”
Äku terdiam tak mengatakan apapun. Dia masih berdiri didepanku dan menunggu aku menjawab kata-katanya. Aku mengangkat
wajahku dan...
“Medi, bisa kan kita selesai sampai disini???”
Dia terlihat kaget dan ingin mengatakan sesuatu.
“Aku ini temenmu, gimana bisa kamu begini ke aku....kita
udahan. Kita temenan lagi kaya dulu. Ga perlu lagi kaya gini. Aku ga nyalahin
kamu sepenuhnya toh aku juga salah. Kamu sayangkan sama Devi. Aku juga sayang
sama kamu tapi aku ga mau kaya gini terus. Kamu hargai aku bisa kan sebagai
teman??”
Aku
mengatakan banyak hal padanya, bahkan mungkin itu yang menyakiti perasaanku
sendiri dan perasaannya. Untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis.
2 komentar:
asssseeeeeeeeemmmmmm....opo kui....
cuit cuiitt... wkakakaa...
realita po mop???
Posting Komentar